Dulu Pedagang Sayur, Sekarang Calon Insinyur

/ / Berita, PEDP, Politeknik Indonesia, Polytechnic Education Development Project
Dulu Pedagang Sayur, Sekarang Calon Insinyur

Keterbatasan bukanlah kendala dalam menggapai impian. Sebaliknya, itu bisa digunakan sebagai “alat cambuk” untuk memacu semangat meraih apa yang dicita-citakan. Pikiran itulah yang selalu ada di benak Dana Hartono, seorang mahasiswa semester VII Jurusan Teknik Kelistrikan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).

Dahulu, pasca-lulus dari SMAN 1 Purwoharjo, ia bercita-cita menjadi seorang guru. Maka ia pun memulai langkahnya dengan mengikuti tes masuk ke sebuah universitas. Namun, keberuntungan belum menyertainya. Ia tidak lolos seleksi tersebut.

Perjalanan selanjutnya membawa Dana merantau ke Kalimantan. Di sana ia bekerja bersama pamannya sebagai petani dan pedagang sayur mayur di pasar tradisional setempat. Kenyataan tersebut tidak membuat Dana menyerah untuk menata masa depannya. Bahkan, di sana ia mendapat banyak pelajaran yang membuatnya semakin kuat dan tegar, ia menamainya sebagai “ilmu berani.”

“Kadang jalan hidup membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Selama menjadi petani dan pedagang sayur, Saya otomatis belajar cara berkomunikasi, bagaimana menawarkan dagangan, melakukan manajemen waktu dan prioritas, serta menyusun strategi untuk memecahkan suatu permasalahan,” ujar Dana.

Karena kecintaannya terhadap pelajaran fisika dan berbekal “ilmu berani” yang didapatkannya, Dana memantapkan langkah untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kampusnya sekarang. Sifat tangguh dan keinginan untuk berinovasi itu pun yang mendorong Dana untuk melahirkan berbagai karya ilmiah yang bermanfaat bagi banyak orang.

Hyrektor, sebuah alat temuan dari Dana Hartono yang memanfaatkan energi matahari untuk penerangan jalan umum. Keunggulan dari alat ini adalah panel surya yang bisa bergerak mengikuti arah sinar matahari.

Hyrektor, sebuah alat temuan dari Dana Hartono yang memanfaatkan energi matahari untuk penerangan jalan umum. Keunggulan dari alat ini adalah panel surya yang bisa bergerak mengikuti arah sinar matahari.

Hyrector, sumber energi baru yang terbarukan

Salah satu karya ilmiah terbaik yang diciptakannya adalah Hyrector. Idenya lahir pada saat Dana menyadari fakta bahwa penerangan jalan umum (PJU) ternyata masih menggunakan energi listrik tidak terbarukan (bersumber dari bahan fosil). Kelak, energi tersebut akan habis dalam kurun waktu tertentu. Selain itu, kenaikan harga tarif dasar listrik pasti akan menambah beban biaya yang harus dibayar. Hal tersebut akan berakibat pada besarnya pajak yang harus dibayar warga negara Indonesia untuk dapat menikmati fasilitas umum tersebut.

Beberapa penerangan jalan umum yang tersedia sudah memanfaatkan sinar matahari sebagai pembangkit daya. Namun ternyata panel surya yang ada masih bersifat statis atau tidak bisa mengikuti gerakan matahari, sehingga energi yang ditangkap kurang maksimal.

“Untuk itu, Saya berupaya mencari sumber energi lain selain energi surya, yaitu energi kinetik kendaraan yang dapat dikonversi menjadi energi listrik. Hyrector adalah upaya penggabungan kedua energi terbarukan tersebut,” ujarnya.

Penelitian Dana membuktikan bahwa setiap 706 kendaraan yang melintas setiap jamnya dalam satu hari dapat menghasilkan energi listrik sebesar 22kWh, serta dapat menerangi 10 titik tiang PJU. Selain investasinya yang lebih murah dibandingkan tenaga surya, biaya operasionalnya juga lebih terjangkau apabila dibandingkan dengan PJU yang berasal dari listrik PLN.

“Hyrector bisa menjadi solusi untuk menghemat pemakaian listrik, sekaligus berfungsi sebagai suplai listrik PJU,” tambahnya.

Karya ilmiah Dana lainnya terkait energi terbarukan juga diaplikasikan untuk ide PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut). Ia menyadari bahwa terdapat potensi gelombang laut Indonesia mencapai 1.995 MW, namun belum termanfaatkan, sehingga ia membuat pembangkit listrik tenaga gelombang laut dalam skala laboratorium yang dilengkapi dengan cadik asimetris pada pontonnya.

Dana kemudian melakukan penelitian lebih lanjut agar energi yang disalurkan ke poros penggerak bisa lebih besar, sehingga listrik yang dihasilkan juga lebih besar. Penelitiannya menemukan fakta bahwa bila salah satu sisi lengan cadik lebih panjang, maka sudut ayunan bandul akan lebih besar. Dengan demikian, torsi untuk menggerakkan poros generator akan lebih besar.

“Alat ini masih memiliki kendala pada stabilitasnya, sehingga masih butuh penyempurnaan lebih lanjut,” katanya.

Terbukti pula bahwa semakin besar massa bandul, maka akan semakin besar pula torsi (tenaga untuk menggerakkan sesuatu) yang dihasilkan oleh sistem.  Akhirnya daya listrik yang dihasilkan pun dapat menjadi lebih besar 0,05 watt dari bandul biasa.

Keingintahuan yang tinggi dan bulatnya tekad untuk melahirkan inovasi baru tersebut, mengantarkan Dana meraih berbagai penghargaan, di antaranya Juara 1 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi PPNS tahun 2017 dan Juara 1 Nasional Pekan Ilmiah Fisika di Universitas Negeri Yogyakarta.

Prestasi demi prestasi berhasil ditorehkan Dana Hartono.

Prestasi demi prestasi berhasil ditorehkan Dana Hartono.

Ke depannya, Dana bercita-cita untuk melanjutkan kuliah kelistrikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berharap mendapatkan dukungan untuk merealisasikan proyek-proyek ilmiahnya secara nyata.

“Saya terinspirasi untuk bisa terus mengembangkan potensi energi terbarukan untuk pembangunan di Indonesia,” ungkapnya.

Ekonomi yang berorientasi pada inovasi

Pengelolaan sumber energi merupakan salah satu fokus sektor yang dikembangkan di bawah Program Pengembangan Pendidikan Politeknik (Polytechnic Education Development Project/PEDP) yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti dan didukung oleh Asian Development Bank serta Pemerintah Kanada sejak 2012.

Sektor lain yang diprioritaskan dalam program tersebut adalah manufaktur, infrastruktur, pertanian dan pariwisata. Saat ini, PEDP telah memberi manfaat kepada sedikitnya 34 politeknik negeri dan swasta di seluruh Indonesia, salah satunya adalah PPNS tempat Dana menimba ilmu. PEDP mendukung terbentuknya lulusan politeknik yang profesional, aplikatif, siap kerja, tepat waktu dan inovatif–atau disingkat PASTI.

Dana merupakan satu dari banyaknya mahasiswa politeknik Indonesia yang mencerminkan prinsip tersebut. Semangat dalam menjalani hidup dan sifat pantang menyerah membawanya ke cita-cita yang diimpikan. Ia juga membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah kendala untuk berprestasi dan berkontribusi pada manfaat ekonomi maupun sosial.

PEDP mengembangkan akses dan kualitas pendidikan politeknik agar lebih banyak mahasiswa yang kompetitif seperti Dana ada di Indonesia. Program ini selaras dengan strategi Master Plan Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menyoroti perluasan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan dan produktivitas melalui peningkatan nilai tambah dalam rantai proses produksi di dunia industri, meningkatkan efisiensi dalam kegiatan produksi dan memperkuat daya saing, serta mempromosikan ekonomi yang berorientasi pada inovasi.

Sumber: Kompas, ‘Dulu Pedagang Sayur, Sekarang Calon Insinyur‘, 3 Januari 2018, <http://edukasi.kompas.com/read/2018/01/03/09020071/dulu-pedagang-sayur-sekarang-calon-insinyur> [diakses 10 Januari 2018]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *