Ekonomi Kreatif Sebagai Penggerak Industri 4.0

/ / Berita

Profesional usia muda berusia antara 20 hingga 25 tahun–yang populer disebut generai milenial atau sudah masuk generasi Z–tumbuh dalam lingkungan yang kompetitif, mensyaratkan kemampuan untuk melakukan inovasi berbekal kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, memiliki kreativitas, serta piawai dalam komunikasi dan berkolaborasi. Mereka dituntut untuk menguasai informasi, media, dan teknologi yang menjadi bagian dari alat kerja sehari-hari.

Profil generasi tersebut dapat ditemukan di antara mahasiswa dan alumni yang menempuh pendidikan vokasi, terutama politeknik. Mereka begitu mencintai kreativitas dan inovasi, terampil dalam memanfaatkan berbagai alat dan sumber daya kerja, memiliki kesungguhan dan presisi dalam memproduksi hasil, mengemban kesadaran akan kualitas terbaik, serta menunjukkan kemandirian usaha dan kecerdasan dalam merespons kebutuhan pasar.

Berkaitan dengan hal tersebut, tidak banyak yang mengetahui bahwa sebagian besar dari 350 pekerja animasi yang berada di balik pembuatan film-film layar lebar produksi Kinema Studio di Batam–yang berafiliasi dengan perusahan film internasional Infinite Studios–adalah alumni pendidikan politeknik. Mereka telah berkontribusi pada pembuatan film animasi maupun film laga kelas dunia yang didistribusikan oleh pusat-pusat perfilman global, salah satunya Hollywood di Amerika Serikat.

Saat ini, keahlian mereka telah dimanfaatkan oleh usaha-usaha di Singapura dan Malaysia dan akan mengisi posisi-posisi ahli di berbagai usaha di Nongsa Digital Park Batam yang saat ini sedang dibangun.

Ekonomi yang dikembangkan dari kegiatan-kegiatan kreatif, terutama yang menggunakan platform digital, saat ini memang menjadi perhatian utama pendidikan politeknik.

“Ini membuktikan relevansi pembelajaran politeknik dengan era revolusi industri 4.0 berbekal kompetensi abad 21,” tegas Direktur Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Dr. Ir. Paristyanti Nurwardani.

Sementara itu, Direktur Politeknik Negeri Batam Dr. Priyono Eko Sanyoto mengatakan bahwa sejak awal pihaknya telah membentuk ekosistem kampus yang membebaskan ekspresi dan kreativitas sehingga para mahasiswa menjalani kegiatan belajar, berpraktik atau bekerja, bermain dan hidup sehari-hari secara produktif dan menyenangkan.

Tidak hanya berkonsentrasi di bidang animasi, politeknik juga menajamkan fokusnya pada pembelajaran multimedia dan jaringan, teknik dan manufaktur elektronika, kecerdasan buatan dan robotika, serta mekatronika, untuk dapat melahirkan para produsen perangkat dan solusi data, aplikasi, game developer, dan profesi-profesi untik lainnya yang dibutuhkan oleh dunia berbasis digital saat ini.

Sumber: Kompas. 3 Februari, 2018. Ekonomi Kreatif Sebagai Penggerak Industri 4.0.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *