Kemenristekdikti-Singapura Kerja Sama Kembangkan Ekonomi Digital

/ / Berita

Batam – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Republik Indonesia memulai kerja sama dengan Singapore Polytechnic dan Temasek Foundation International, dalam komitmen untuk mengembangkan ekonomi digital dengan menyelenggarakan program pelatihan training for the trainer (ToT) melalui acara The Collaboration on Digital Economy Skills Programme pada Senin (5/3/2018) bagi 65 dosen politeknik yang berasal dari 6 politeknik.

Peluncuran program yang dilaksanakan di Auditorium Politeknik Negeri Batam ini juga melibatkan dan disaksikan oleh tamu dari KemenristekDIKTI, Temasek Foundation International, Singapore Polytechnic, Kemenristekdikti, 65 partisipan program, pimpinan 6 politeknik peserta progtram, para pelaku dan pegiat bisnis digital, Badan Pengusahaan Batam, Pemerintah Kota Batam, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Kerjasama ini utamanya berbentuk program training for trainers (ToT) seputar topik teknologi informasi (information technology/IT) bagi 65 dosen politeknik yang berasal dari Politeknik Negeri Batam, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Manufaktur Bandung, Politeknik Negeri Bandung dan Politeknik Negeri Bengkalis. Program ini merupakan bagian dari Polytechnic Education Development Project (PEDP) yang dipimpin Kemristekdikti dan didukung oleh Asian Development Bank dan Pemerintah Kanada, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan politeknik di Indonesia.

“Jadi ini acara training of the trainer untuk menghadapi atau menyiapkan orang supaya terampil di digital ekonomi,” ujar Direktur Politeknik Negeri Batam Dr Priyono Eko Sanyoto seusai acara pembukaan, Senin (5/3/2018).

Program ini dilaksanakan dalam tiga tahap, di mana dua tahap pertama dilaksanakan di Batam dan tahap terakhir di Singapura, dengan durasi masing-masing antara 3-7 hari. Pelatihan ini akan menyeleksi 30 Master Trainers yang tugasnya adalah menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilannya melalui program pelatihan serupa kepada sedikitnya 90 pelatih baru di tahun berikutnya. Melalui mekanisme ini, pada tahun 2019 nanti Indonesia diharapkan akan memiliki sebanyak 2.700 tenaga terampil di bidang IT, untuk mengisi kebutuhan industri maupun bergerak sebagai teknopreneur.

Kegiatan berbagi pengalaman dan pengembangan keahlian ini difasilitasi oleh staf pengajar Singapore Polytechnic, di mana akan difokuskan pada penguatan kemampuan teknis di bidang pemrograman, framework, pengembangan aplikasi baik front-end dan server-end, hingga aspek cybersecurity.

Staf Ahli Bidang Sosial, Kesejahteraan Rakyat dan Pengembangan SDM Kepri, Syamsuardi mengatakan, pihaknya sangat mendukung kerja sama yang menghasilkan program pengembangan kemampuan di bidang IT tersebut. Karena perkembangan zaman yang maju pesat membuat seluruh lapisan masyarakat dituntut untuk turut berkembang. “Harapannya tentu dengan pelatihan ini didapat SDM yang semakin baik, serta mampu membangun Kepri ke arah yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Batam sebagai Jembatan Digital Indonesia

Direktur Politeknik Negeri Batam, Dr. Priyono Eko Sanyoto mengatakan kerjasama strategis ini tidak lepas dari misi Pemerintah Republik Indonesia dan pernyataan Presiden Joko Widodo pada 7 September 2017 lalu yang menyebutkan, bahwa Batam “must become a Digital Bridge, connecting Singapore to other digital communities in cities around Indonesia”.

“Batam perlu menjadi Jembatan Digital yang menghubungkan Singapura dengan komunitas digital di Indonesia yang tersebar di seluruh nusantara.” – Presiden Jokowi (7/9/2017)

Dengan demikian peran Batam di dalam pengembangan digital economy menjadi sangat strategis bagi Indonesia.

Terdapat tiga alasan Batam mendapatkan mandat tersebut; pertama, telah tersedianya infrastruktur IT yang memadai; kedua, adanya kawasan industri digital yang sedang tumbuh; dan ketiga, posisi Batam yang strategis sehingga memudahkan arus perpindahan orang dan barang.

Dr. Priyono Eko Sanyoto juga mengatakan, “Program ini merupakan satu dari tiga bidang ekonomi digital yang dikembangkan oleh Politeknik Negeri Batam yaitu industri kreatif, logistik dan industri 4.0. Pengembangan perangkat lunak sendiri merupakan bagian dari industri kreatif.”

Dr. Eko juga menegaskan bahwa ketiga bidang tersebut saling terkait satu sama lain, “Tanpa tata kelola logistik yang baik, kegiatan industri kreatif seperti e-commerce tidak dapat tumbuh cepat secara kompetitif. Sebaliknya, tanpa dukungan produk industri kreatif, sistem logistik tidak dapat berjalan dengan efisien.”

Sementara itu, Joanne Ng dari Temasek Foundation International mengungkapkan, “Pelatihan semacam ini sejalan dengan misi Yayasan yaitu berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas hidup di kawasan Asia Tenggara.”

Hal senada disampaikan oleh Tan Junming, perwakilan Singapore Polytechnic, “Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan institusi politeknik di Indonesia. Berbagi pengalaman, pengetahuan dan teknologi adalah hal yang sangat penting bagi kedua negara. Kegiatan ini jelas memperluas jejaring dan membuka banyak kesempatan untuk kerjasama di ranah pendidikan keterampilan digital di masa mendatang.”

Kerja sama ini juga didukung oleh Nongsa Digital Park, yaitu kawasan digital di Batam yang diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak utama ekonomi digital di Batam. Nara Dewa, Human Resources Manager Nongsa Digital Park, mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung program ini. “Saat ini Nongsa Digital Park sudah siap beroperasi dengan para pelaku industri di bidang teknologi finansial,” ujarnya.

Tentang Polytechnic Education Development Project (PEDP)

Polytechnic Education Development Project (PEDP) atau Program Pengembangan Pendidikan Politeknik dibentuk sejak 2012, merupakan inisiatif yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, didukung oleh Asian Development Bank dan Pemerintah Kanada, yang bertujuan untuk meningkatkan akses, kualitas dan memperkuat relevansi sistem pendidikan politeknik, terutama di lima sektor prioritas yaitu manufaktur, infrastruktur, pertambangan dan energi, pertanian serta pariwisata, melalui konsentrasi program di 34 institusi politeknik negeri dan swasta di seluruh Indonesia.

 

Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *