Lokakarya Penyusunan Strategi Pengarusutamaan Gender dan Pelatihan Singkat Gender Untuk Focal Point

/ / Global Affair Canada

Kementerian Riset, Tehnology dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah melaksanakan Proyek Pengembangan Pendidikan Politeknik (Polytechnic Education Development Project/PEDP) sejak 7 Januari 2013. Proyek yang didukung oleh ADB ini merupakan proyek yang meletakkan perpektif keadilan dan kesetaraan gender menjadi bagian tak terpisahkan dalam implementasi dan pencapaian tujuan proyek.

Hal tersebut diatas sesuai utamanya dengan Output 2 proyek yakni Meningkatnya Akses Ke Pendidikan Politeknik yang Lebih Adil. Penentuan output ini sejalan dengan Laporan dan Rekomendasi President ADB yang disampaikan kepada para Direktur Bank-Bank Penyandang Dana bahwa jumlah peserta didik perempuan di program-program studi non-tradirional seperti jurusan  teknik masih rendah.

Saat ini proyek sedang menyiapkan sejumlah kegiatan untuk membantu pihak Politeknik menyusun dokumen Strategi Pengarusutamaan Gender. Adalah sebuah dokumen yang memberi arahan dan petunjuk untuk mempromosikan keadilan dan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dan mengurangi kesenjangan-kesenjangan gender yang masih ada.

2. TUJUAN

  • Memberikan peserta lokakarya informasi tentang hakekat perspektif keadilan dan kesetaraan proyek PEDP, situasi dan kondisinya terkait dengan isu gender;
  • Memastikan peserta lokakarya memiliki pemahaman yang baik dan pentingnya dokumen Strategi Pengarusutamaan Gender;
  • Membentuk sebuah Tim Gender Focal Point untuk mendukung kelancaran dan keberhailan penyusunan dokumen Strategi Pengarusutamaan Gender;
  • Menetapkan mekanisme koordinasi dan komunikasi selama proses selama proses penyusunan dokumen Strategi Pengarusutamaan Gender.

3. PELAKSANAAN KEGIATAN

Tempat : Hotel Millenium, Jakarta

Jl. Kebon Sirih, Tanah Abang – Jakarta Pusat

Hari/Tanggal : Senin  –  Selasa / 02 – 03 Oktober 2017
Pengarah dan Penanggung Jawab 1.     Intan Ahmad, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan

2.    Sutrisna Wibawa, Direktur Proyek

3.    Paristiyanti Nurwardani, Direktur Pembelajaran

4.    Aris Junaidi, Direktur Penjaminan Mutu

5.    Didin Wahidin, Direktur Kemahasiswaan

6.    Edy Siswanto, Pejabat Pembuat Komitmen

Tenaga Ahli : 1.     Kokok Haksono

2.    Syaifuddin Abdullah

3.    Harianto

4.    Dindin Sulaiman

5.    Kharisun

6.    Nunung Martina

7.    Budi Santoso

8.    Sutarum Wiryono

9.    Fitria P. Anggriani Arifin

10.  Riana Puspasari

11.   Pande K. Trimayuni

12.  Yusuf Supiandi

13.  Laksmita Anggraeni

14.  Dewayani Diah Savitri

15.  Afriyudianto

16.  Dewi Wulandari

17.  M. Husni Thamrin

18.  Rahmad Hardjono

 

Peserta : 1.     Perwakilan Gender PIU Politeknik ATMI Surakarta

2.    Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Cilacap

3.    Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Indramayu

4.    Perwakilan Gender PIU Politeknik LPP Yogyakarta

5.    Perwakilan Gender PIU Mekatronika Sanata Dharma

6.    Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Samarinda

7.    Perwakilan Gender PIU Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

8.    Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Banjarmasin

9.    Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Semarang

10.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Manufaktur Negeri Bandung

11.   Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Bandung

12.  Perwakilan Gender PIU Politeknik POS Indonesia

13.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

14.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Ambon

15.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Bali

16.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Banyuwangi

17.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Jember

18.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Manado

19.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Malang

20. Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Manado

21.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Ujung Pandang

22. Perwakilan Gender PIU Politeknik PADAMARA

23. Perwakilan Gender PIU Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

24. Perwakilan Gender PIU Politeknik Pertanian Negeri Kupang

25. Perwakilan Gender PIU Politeknik Pertanian Negeri Pangkep

26. Perwakilan Gender PIU Politeknik Caltex Riau

27. Perwakilan Gender PIU Polman Negeri Bangka Belitung

28. Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Batam

29. Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Jakarta

30. Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Lampung

31.  Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Lhokseumawe

32. Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Medan

33. Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Padang

34. Perwakilan Gender PIU Politani Negeri Payakumbuh

35. Perwakilan Gender PIU Politeknik Negeri Pontianak

 

Panitia : 1.      Dina Sabrina

2.     Dyne Meirianti

3.     Irwan Setiadi

4.     Jenny Puspitasari

5.     Riya Yani

6.     Tri Purwanto

7.     Rani Dewi Rahmani

8.     Herry Kusumayanto

9.     Samudra

10.   Staff keuangan

 

Deskripsi Kegiatan :

Dengan dasar hasil kueisoner ini maka pertemuan pertama dengan Gender Focal Point ini akan mencakup dua agenda yakni 1) briefing and 2) sesi singkat tentang penyadaran gender.

 

4. HASIL (OUTPUT) DAN OUTCOME YANG DICAPAI

OUTPUT :

  1. Para Gender Focal Point yang sudah terpilih memiliki pemahaman yang baik terkait dengan peran yang harus dilakukan dalam kegiatan-kegiatan khususnya penyusunan dokumen Strategi Pengarusutamaan Gender;
  2. Project Implementasi Unit (PIU) memberikan dukungan sepenuhnya untuk kegiatan penyusunan dokumen Strategi Pengarusutamaan dan Gender Focal Point menjalankan perannya;
  3. Dokumen Strategi Pengarusutamaan dipahami oleh semua pihak dengan baik.

OUTCOME :

  1. Pemahaman dan masukan tentang gender yang dapat dipahami oleh peserta workshop;
  2. Penilaian dan pencapaian atas isu gender;
  3. Focal point dan peran gender dalam politeknik

5. TINDAK LANJUT KEGIATAN

  • Nunung Martina

Dalam beberapa isu gender dalam pendidikan dipoliteknik antara lain sebagai berikut :

  • Bagaimana distribusi mahasiswi pada berbagai bidang ilmu pada pendidikan Politeknik?
  • Kendala apa yang dihadapi perempuan untuk memasuki pendidikan Politeknik khususnya bidang Teknik?
  • Apakah ada kuota perempuan yang memasuki pendidikan Politeknik?
  • Apakah tersedia fasilitas yang layak (misalnya akomodasi asrama yang aman bagi perempuan, fasilitas belajar untuk perempuan apabila norma budaya memisahkan tempat belajar anak laki-laki dengan perempuan) dalam kampus Politeknik sehingga memungkinkan bagi kaum perempuan merasa aman dan nyaman kuliahdi Politeknik?
  • Apakah tersedia beasiswa bagi perempuan yang mengambil pendidikan di Politeknik, untuk menutup biaya-biaya tertentu, seperti uang pendidikan, buku pelajaran, seragam, dan fasilitas asrama. Bantuan uang bisa mengurangi biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost).
  • Apakah kurikulum di Politeknik sudah menghilangkan stereotype gender .
  • Apakah ada kebijakan di Politeknik yang mendukung masalah gender?

Dari hal – hal tersebut, diharapkan dapat menjadi target utama dalam penanggulangan isu gender dalam pendidikan politeknik. PMU mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi penghubung atas keberadaan focal point di tingkat politeknik.

  • Dewayani

Gender merupakan kajian tentang tingkah laku perempuan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman.

Masyarakat pada umumnya membedakan adanya sifat kepribadian tertentu yang dianggap khas milik perempuan dan sebagian yang lain khas miliki laki-laki. Sifat-sifat yang dianggap khas perempuan misalnya lemah lembut, bijaksana, cerewet, religius, peka terhadap perasaan orang lain, sangat memperhatikan penampilan, mudah menangis, tergantung atau kurang mandiri, dan memiliki kebutuhan rasa aman yang besar. Sifat-sifat yang khas laki-laki misalnya agresif, mandiri, kurang emosional, objektif, kurang peka terhadap perasaan orang lain, ambisius, dominan, logis, dan suka bersaing. Pertanyaannya, apakah hal tersebut benar?

Boleh jadi sifat-sifat yang khas itu memang benar. Kekhasan itu muncul karena sejak kecil masing-masing jenis kelamin memang telah dididik untuk selaras dengan sifat-sifat itu. Misalnya saja agresivitas. Sejak kecil laki-laki dididik untuk agresif, perkelahian anak laki-laki lebih dimaklumi. Permainan mereka berkisar pada persaingan dan peperangan. Sebaliknya anak perempuan dididik kurang agresif. Mereka dilarang melakukan permainan agresif. Permainan yang diberikan pun bukan permainan agresif. Maka kemudian menjadi wajar jika laki-laki lebih agresif ketimbang perempuan.

Adapun isu gender yang dapat diangkat atas permasalahan yang terjadi dilingkungan institusi sendiri antara lain : a) Perlu identifikasi kembali atas isu gender; b) pemetaan atas permasalahan gender; c) Strategy gender.

Atas pemahan yang disampaikan oleh ibu nunung martina diidentifikasi kembali atas isu – isu gender yang terjadi dalam lingkungan pendidikan politeknik, berikut beberapa yang disampaikan oleh kelompok – kelompok sbb :

  1. Nusantara
    • Berkurangnya jumlah peminat atas program studi tertentu dikarenakan cara pandang/berpikir masyarakat bahwa bidang keteknikan lebih kepada pekerjaan kasar dan biasa dikerjakan oleh laki – laki.
    • Perlunya sosialisasi atas keberadaan focal point di institusi
    • Perlunya penghubung atas pengumpulan dokumentasi yang diperlukan sebagai penunjang aktivitas gender
    • Kebijakan pimpinan sebagai point utama
  2. Harapan Bangsa
    • Informasi tentang gender sebaiknya tidak hanya pada tingkat perguruan tinggi saja.
    • Strategy pemberian beasiswa bagi jumlah mahasiswi berprestasi
    • Memperkenalkan jenis pekerjaan, sehingga dapat terbentuk potensi atau keinginan pada bidang yang minim peminat
    • Perlu adanya pemahaman dan pandangan atas penentu kebijakan dalam hal ini pimpinan institusi
    • Fasilitas juga perlu didukung, sebagai pembeda atara kebutuhan pria/wanita.
  3. Jenius
    • Melaporkan hasil kegiatan yang dilaksanakan terkait dengan gender
    • Dukungan pimpinan atas keberadaan focal point
    • Instrumen
    • Mediator
    • Promosi gender
  4. Nirwana
    • Penghubung
    • Fasilitator
    • Pemantau
    • Penyebar info
    • Juru Bicara
    • Tinktan
  5. Gender Belle
    • Pemahaman tentang mainstreaming gender di tingkat pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi
    • Duta gender
    • Pembentukan Learning Center
    • Media promosi dan kebijakan pimpinan

Dari isu gender yang telah disampaikan oleh 5 kelompok diatas, akan dikerucutkan kembali, sehingga dapat menjadi point utama dalam menyelesaikan masalah gender.

  • IBU RIANA PUSPASARI : KEBIJAKAN GENDER ADB

Kenapa issue gender banyak menyoroti perempuan? Karena untuk saat ini memang sisi perempuan yang masih terjadi kesenjangan. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti, lebih menyoroti kepada laki-laki.

Pada jaman Ibu Kartini dulu, perempuan tidak ada yang sekolah. Hampir separuh potensi perempuan tidak termanfaatkan pada saat itu, karena tidak sekolah.

Komitmen Internasional

Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman (CEDAW) diadopsi 1979, mulai berlaku pada tanggal 3 Sepember 1981.

Indonesia meratifikasi melalui UU no.7/1984. Ratifikasi terhadap konvensi PBB tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW).

–         Hak atas kesempatan kerja yang sama, termasuk kriteria seleksi yang sama

(Sustainable development Goal) – SDG’s. Disepakati Desember 2015.

Ada 17 tujuan, dan 169 target.

Perpres no.59 tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

–         Menghilangkan disparitas gender dalam Pendidikan dan menjamin akses yang sama untuk semua tingkat Pendidikan dan pelatihan kejuruan.

Kebijakan Nasional

  1. UU No.7 tahun 2984_Ratifikasi CEDAW
  2. UU No.17 tahun 2007_Tentang RPJMN 2005-2025
  3. Inres No.9 Tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional
  4. Perpres No.2 Tahun 2015
  5. Perpres no.59 tahun 2017

Kategori Gender di ADB

  1. Gender equity as a theme (GEN).
    Outcomenya langsung mengurangi kesenjangan gender
  2. Effective Gender Mainstreaming (EGF)
    Outcomenya tidak langsung menyasar, tetapi membuka akses terhadap bidang-bidang ekonomi, infrastruktur, Pendidikan dll. PEDP masuk ke kategori ini
  1. Some Gender Elementa (SGE)
    Jangka pendek
  1. No Gender Element (NGE)
    Untuk pembangunan infrastruktur yang tidak ada kaitan langsung dengan gender.

Dari hasil yang telah dilakukan selama 2 hari pelaksanaan kegiatan, konsultan gender mengharapkan kuisioner yang dibagikan ke tim focal point dapat memaksimalkan waktunya untuk melakukan wawancara ke pada pimpinan institusi masing – masing.

  1. Maksud dan tujuan wawancara adalah untuk menggali informasi tentang situasi dan kondisi kelembagaan Politeknik dalam rangka pelaksanaan Strategi Pengarustamaan Gender di masa mendatang. Pengarusutamaan Gender adalah strategi mengintegrasikan perspektif keadilan dan kesetaraan gender ke dalam seluruh proses kegiatan dari mulai perencanaan, penganggaran, implementasi dan monitoring serta evaluasi. Artinya, kebutuhan dan aspirasi baik laki-laki maupun perempuan terakomodir dengan baik dalam setiap proses kegiatan lembaga.

6. SARAN/REKOMENDASI

Hasil dari kegiatan ini diharapkan focal point dari masing – masing politeknik dapat mengirimkan hasil kuisioner yang telah dibagikan dan dapat dikirimkan paling lambat 2 minggu terhitung mulai tanggal 3 Oktober 2017. Focal point diharapkan dapat dapat menjadi penghubung informasi antara PMU dan PIU. Kegiatan ini akan dilaksanakan kembali di akhir oktober dengan mengundang Tim yang berbeda.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *