Garuda dan PNJ Kerjasama Meningkatkan Sumber Daya Manusia

Medan – Politeknik Negeri Jakarta dengan Garuda Maintenance Facility yang dimiliki perusahaan Garuda Indonesia Group, PT GMF AeroAsia tbk melakukan kerjasama terkait pemeliharaan dan perbaikan dalam pengoperasian pesawat terbang.

Tujuannya untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pengoperasian fasilitas Maintenance, Repair and Overhaul (MRO).

“Kerjasama GMF dengan Politeknik Negeri Jakarta sudah berjalan dua angkatan. Yang pertama, mahasiswanya 24 orang dan kedua 20 orang. Dalam kerjasama ini, semua lulusan akan direkrut GMF,” kata Ketua Jurusan Teknik Mesin PNJ, Dr. Eng. Muslimin, M.Sc, Sabtu (7/4).

Hal ini diperlukan karena kebutuhan teknisi pesawat semakin besar, dan di negara-negara lain, Aircraft Mentainance Training Organization (AMTO) berada di sekolah-sekolah vokasi. Maka GMF pun mengambil inisiatif seperti itu dengan (lebih…)

Politeknik Negeri Jakarta Gelar “Smart Education For Indonesia” Untuk Kedua Kalinya

DepokSmart Education For Indonesia (SEFI) tahun ini merupakan yang kedua kalinya dalam pelaksanaan program kerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) departemen pendidikan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

Acara SEFI kali ini terdiri dari 2 tema, yaitu seminar beasiswa dengan tema “National and International Scholarship”. Dalam seminar ini sharing mengenai cara mendapatkan beasiswa di Indonesia maupun luar negeri dan tips untuk mendapatkan beasiswa. Untuk seminar keduanya ialah prospek kerja dengan tema “Polytechnic Existence For a Glorlous Future”, acara ini berbagi pengalaman mengenai dunia kerja seperti apa dan setelah lulus kuliah lalu masuk dunia kerja bagaimana cara menghadapinya nanti.

Andi Setya Utama, Ketua BEM PNJ saat ditemui di PNJ, Aula Gedung Q (25/04/2018) menjelaskan,

“BEM ini mempunyai peranan yang signifikan untuk teman-teman PNJ dan masyarakat luar. SEFI ini memberikan program yang cukup baik dinilai dari segi rektor ataupun mahasiswa.”

Saat ini pemerintah sedang menggalakan (lebih…)

National Polytechnic English Olympics (NPEO) Ke-6 di Poltekpos Indonesia Sukses Digelar

Bandung – Gelaran National Polytechnic English Olympics (NPEO) keenam telah sukses dilaksanakan. Gelaran bergengsi tingkat nasional ini merupakan agenda rutin tahunan dari seluruh politeknik yang ada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ristek Dikti.

NPEO yang tahun 2018 ini diselenggarakan selama lima hari, mulai 15-20 April 2018 di Politeknik Pos (Poltekpos) Indonesia, Bandung, diikuti oleh 261 delegasi mahasiswa dari 54 politeknik se-Indonesia. Mahasiswa dari sejumlah politeknik dari Aceh hingga Fak-Fak Papua itu hadir dan menjadi peserta untuk berkompetisi unjuk kemampuan Bahasa Inggris.

Dalam kompetisi ini para peserta bersaing dalam empat kategori perlombaan, yaitu debat Bahasa Inggris, news casting, story telling, dan public speaking. Selain para peserta, kegiatan ini juga melibatkan 107 orang adjudicator (juri) dan pendamping, serta 30 orang wakil direktur bidang kemahasiswaan dari berbagai politeknik yang menjadi (lebih…)

Tak Banyak yang Tahu, PNJ Punya Alat Infrastruktur Canggih Langka

Jakarta – Meski sudah ada hampir selama tiga tahun, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa ternyata Politeknik Negeri Jakarta sudah memiliki sebuah alat canggih di bidang infrastruktur yang langka di Indonesia.

Alat tersebut berupa perlengkapan untuk mengukur getaran jembatan dan hanya ada tiga institusi di Indonesia yang memilikinya. Selain PNJ dan satu institusi lainnya, alat tersebut hanya ada di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU-Pera). Menurut Direktur Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Abdillah, fasilitas ini sudah dimiliki PNJ sejak 2015.

“Peralatan ini mungkin tidak banyak yang punya, cuma tiga institusi yang punya. Yaitu alat untuk pengukuran getaran jembatan,” kata dia, belum lama ini.

Dia menjelaskan, pada 2015 PNJ memiliki sebuah alat pengukur kemampuan menahan getaran jembatan yang diperoleh berkat keberhasilan memenangi kompetisi program hibah dari Polytechnic Education Development Project (PEDP) yang dibiayai Asian Development Bank (ADB). Alat senilai sekitar Rp 17 miliar tersebut pun bukan didapatkan begitu saja setelah memenangi kompetisi, tetapi juga harus melalui proses lelang dan seabreg persyaratan lainnya. (lebih…)