Tinggal Landas Mengejar Sertifikasi Internasional

/ / Berita

Sore itu, tak kurang dari 48 mahasiswa berseragam tampak berbaris menuju salah satu ruang di Kampus Politeknik Negeri Batam (Polibatam), Provinsi Kepulauan Riau. Mereka adalah mahasiswa program studi Perawatan Pesawat Terbang, salah satu program studi unggulan di Polibatam, yang baru dibuka pada 2016.

Industri transportasi udara, saat ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Di Indonesia saja, setidaknya dibutuhkan 800 teknisi pesawat terbang baru per tahunnya. Ini menjadi tantangan ke depannya, karena lembaga semacam Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO) belum bisa memenuhi kebutuhan itu. “Untuk bisa bekerja bekerja di perusahaan perawatan pesawat terbang (MRO) minimal harus punya lisensi. Mereka pun susah mencari tenaga dengan keahlian tersebut. Itu sebabnya mereka merekrut orang dan menyekolahkannya di sini,” ujar Direktur Polibatam Priyono Eko Sanyoto.

Tak hanya itu, jaminan tenaga kerja yang kompeten dan bersertifikat internasional pun menjadi tuntutan berikutnya. Maka sejumlah langkah strategis pun diimplementasikan. Melalui Program Pengembangan Pendidikan Politeknik (Polytechnic Education Development Project atau PEDP) yang dilakukan melalui Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) didukung Asian Development Bank (ADB) dan Pemerintah Kanada, akselerasi pemenuhan sumber daya manusia (SDM) yang terampil baik hand skill maupun soft skill bisa disegerakan.

Polibatam merupakan Politeknik penerima hibah PEDP dari ADB untuk batch ke-3, yang dimulai pada 2014 dan berakhir pada Desember 2017. “Polibatam pada 2018-2019 kembali terpilih menjadi salah satu penerima hibah PEDP dari ADB, dengan fokus pengembangan program studi Digital Economy dan Aircraft Maintenance,” ucap Eko.

Untuk mencetak lulusan yang mampu bersaing di era global ini, sejumlah kerja sama pun dilakukan antara Polibatam dan dunia industri. Di antaranya, dengan Batam Aero Technic (EAT) dan Kinema Systrans Multimedia (Kinema Studio) yang berada di Batam.

Saat ini, juga sedang diakselerasi implementasi kerja sama digital economy antara Presiden Joko Widodo dengan PM Singapura, yang akan diimplementasikan oleh Kemristekdikti yang dipimpin oleh Menteri Ristekdikti Prof. M. Nasir, Kinema Studio dan Temasek Foundation Singapura, NUS, Singapura Politeknik dan Republik Politeknik, yang siap mengembangkan dan menyiapkan SDM lulusan Politeknik yang kompetitif, berakhlak mulia, dan berkarakter untuk mewujudkan Nongsa Digital di Pulau Batam.

Untuk kesuksesan tersebut pada 2018 ini Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Prof. Intan Ahmad mencanangkan program Digitalisasi Pembelajaran dan menerapkan hibrid (blanded learning) dengan memperkuat materi coding, programming, dan literasi teknologi melalui penyediaan mata kuliah pilihan.

Dony Suherman, General Manager of Organization Business and Development BAT, menegaskan, “Kami masih kekurangan tenaga kerja dengan lisensi C. Melalui kerja sama dengan Polibatam diharapkan secepatnya bisa memiliki pekerja dengan kualifikasi C.” Sebagai catatan, untuk menelurkan insinyur andal, dibutuhkan AMTO. Polibatam inilah yang diharapkan akan menjadi lembaga (AMTO) yang mampu mencetak tenaga ahli di industri penerbangan dengan sertifikasi nasional maupun internasional. Seperti dijelaskan oleh Direktur Pembelajaran, Kemristekdikti, Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, “Tahun 2018 PEDP, ADB, dan Pemerintah Kanada akan memfasilitasi sertifikasi internasional untuk dosen dan mahasiswa bidang perawatan pesawat, maritim, IT, pariwisata, dan food processing.”

Saat ini, seperti dijelaskan Eko dan Dony, secara kualitas SDM Indonesia sebetulnya tak kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Namun yang masih menjadi kelemahan adalah kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Polibatam yang sudah bisa mencetak lulusan dengan sertifikasi level nasional (BNSP) maupun internasional (Microsoft, IPC, AMTO, dan lain-lain) diharapkan bisa mempercepat kesetaraan ini. Selain itu, mutual agreement dengan sejumlah asosiasi juga harus dikejar.

Sedangkan dari industri kreatif, khususnya animasi, Peters Vincen, Direktur Kinema Systrans Multimedia, menjelaskan, “Indonesia memiliki orang-orang penuh talenta. Namun regulasi belum mendukung. Dukungan dari Pemerintah berupa hibah sangat kita butuhkan. Menyiapkan fasilitas, seperti komputer, software yang asli itu sangat mahal.” Maka, Politeknik diharapkan akan menjadi solusi untuk menyiapkan tenaga kerja terampil, siap kerja dan berkarakter terpuji bagi Era Digital dan Era Revolusi Industri 4.0, serta Digital Economy. Politeknik PASTI hebat, profesional, aplikatif, siap kerja, tepat waktu, dan inovatif.

Sumber: Tempo. 12 Februari, 2018. Tinggal Landas Mengejar Sertifikasi Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *