Dorong Partisipasi Politik Mahasiswa, DPM Polinema Malang Gelar Sekolah Legislatif

/ / Berita
Dorong Partisipasi Politik Mahasiswa, DPM Polinema Malang Gelar Sekolah Legislatif

Pasifnya mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah akhir-akhir ini, membuat mahasiswa dianggap terjebak dalam permainan politik para elit.

Dimasa orde lama misalnya, muncul figur Soe Hok Gie sebagai simbol perjuangan mahasiswa. Saat orde baru pun ada figur Budiman Sudjatmiko yang berani melawan kungkungan rezim otoriter Soeharto. Masalahnya, setelah era reformasi figur mahasiswa hilang bak ditelan bumi.

Tanggap akan hal ini, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengupayakan peningkatan kesadaran politik mahasiswa. Salah satu caranya adalah dengan menggelar sekolah legislatif.

“Dengan adanya kegiatan ini harapannya, mahasiswa sendiri bisa lebih peka dalam permasalahan politik khususnya legislatif dan bisa lebih kritis lagi terhadap permasalahan di Indonesia pada umumnya dan Polinema khususnya,” kata Ketua Pelaksana kegiatan, Revaldo Mulya Ramadhan usai gelaran sekolah legislatif, Sabtu (1/12/2018) .

Sementara itu, Sekertaris DPM, Rizky Refiza menegaskan, di masa sekarang mahasiswa kurang kepedulian terhadap isu-isu politik yang tengah berkembang di Indonesia. Bahkan tingkat partisipasi politik mahasiswa pun dapat dikatakan masih sangat minim.

Kata Rizky, dari penelitian Herlyne yang dipublish dalam jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan menunjukkan tingkat partisipasi mahasiswa dalam pemilihan raya khususnya dilingkungan kampus hanya mencapai angka 56,72 persen. Hal ini menunjukkan, masih banyaknya sikap apatisme dalam diri mahasiswa saat ini.

“Mahasiswa kurang kepedulian di masa sekarang, jadi kita ambil ini sebagai momen untuk mendorong kepedulian mahasiswa,” kata Rizky Refiza.

Meski diajak untuk turut berpartisipasi dalam politik, mahasiswa harus dituntut untuk bersikap netral. Menurut Ketua Komisi II Senat Polinema, Hairus Sandi, kenetralan mahasiswa dalam politik artinya mahasiswa harus menjadi penengah dan menjadi agen of change yang baik khususnya terhadap kemajuan perguruan tinggi sekaligus bangsa dan negara.

“Mahasiswa harus punya prinsip tidak harus berpihak, berani mengkritisi apa yang dinilai mereka bermasalah,” kata Hairus Sandi.

Sebagai informasi, dalam gelaran tersebut, DPM menghadirkan dua narasumber utama yakni Ketua Umum DPM Universitas Brawijaya dan Ketua Komisi II Senat Polinema, Hairus Sandi.

 

Sumber: Suara Indonesia, ‘Dorong Partisipasi Politik Mahasiswa, DPM Polinema Malang Gelar Sekolah Legislatif‘, 1 Desember 2018, <https://www.suaraindonesia.co.id/read/2867/20181201/150320/dorong-partisipasi-politik-mahasiswa-dpm-polinema-malang-gelar-sekolah-legislatif> [diakses 12 Februari 2019]