Kedua Mahasiswi Polines Ini Juarai NTU Bridge Design 2019

/ / Berita
Kedua Mahasiswi Polines Ini Juarai NTU Bridge Design 2019

Yuli Kristiani (20) dan Riki Mala Sari (19), dua mahasiswi jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang (Polines) berhasil meraih penghargaan bergengsi.

Mereka juarai kompetisi desain jembatan Nanyang Technological University (NTU) Bridge Design 2019 yang digelar 9-10 Maret 2019 lalu.

NTU Bridge Design merupakan kompetisi membuat jembatan yang diselenggarakan NTU setiap tahun.

Kompetisi ini diikuti mahasiswa dari universitas seluruh dunia.

Pada Senin (18/3/2019), Yuli Kristianti menerangkan kompetisi ini diikuti karena sebelumnya sudah beberapa kali lolos di kompetisi serupa di Indonesia.

Misalnya Kompetisi Jembatan Indonesia ke 14 di Makassar, dan Balsa Bridge Competition di Yogyakarta.

“Karena kami mendapatkan info tersebut. Maka kami mengikutinya,” paparnya, Senin (18/3/2019).

Yuli dan Riki pun bergabung dalam tim bernama Yuki Great Indonesia.

Yuki, paparnya, adalah kependekan dari Yuli dan Riki.

“Kami ingin tim kami membanggakan nama Indonesia di kancah dunia. Itu maksud nama tim kami,” paparnya.

Di kompetisi, Yuli mengaku sedikit gugup karena harus berhadapan dengan tim lain dari berbagai universitas bergengsi dunia.

Tetapi mereka berdua tak gentar dan bertekad melakukan yang terbaik.

Di kompetisi yang dilangsungkan di NTU tersebut, menurut Yuli, ada beberapa babak yang harus diarungi peserta.

Seperti mendapatkan sample case atau contoh masalah, lalu praktik membuat miniatur jembatan dengan mempertimbangkan ukuran dan kekuatan, serta tahap presentasi atau pemaparan.

Sampel misalnya, yakni jembatan tersebut harus mampu menghubungkan dua jurang di bawahnya.

Jembatan itu memiliki panjang 30 meter.

Bagian bawah jembatan itu juga harus bisa dilewati kapal 7×10 meter.

Dan di jembatan harus bisa dilewati kereta setinggi 6 meter dan selebar 4 meter.

“Membuat miniatur jembatan itu menggunakan kayu balsa berukuran 5×5 milimeter. Pengerjaannya kami menggunakan aplikasi SAP 2000,” ujar dia.

Setelah mendapatkan sampel terbaik dari aplikasi, mereka sempat membuat miniatur jembatan menggunakan kayu balsa.

Lima kali tahap pengujian, Yuli menjelaskan semua desainnya gagal.

“Lalu kami membuat dua desain lagi. Nah satu dari dua miniatur ini yang kami nilai dan presentasikan,” ujarnya.

Miniatur jembatan yang mereka buat selama 3,5 jam tersebut, ujar Yuli, akhirnya mampu lolos sejumlah cek dari para juri seperti cek dimensi, plat, dan berat.

“Yang lolos sepuluh besar, harus melajutkan ke babak selanjutnya yaitu presentasi,” katanya.

Di babak presentasi, mereka berdua menggunakan pakaian kebaya.

Mereka juga membuat maket untuk mendukung presentasi.

“Banyak mahasiswa luar negeri mengapresiasi maket kami. Kami mendapatkan nilai presentasi paling tinggi karena membawa maket sebagai pendukung dan kebaya sebagai budaya indonesia,” ujarnya.

“Dan kami dipuji para juri karena jembatan bisa menahan beban paling baik di antara semuanya,” ujarnya.

Dalam pengumuman di hari yang sama, tim tersebut mendapatkan juara 1 untuk Most Popular Design.

Mereka berdua bersyukur mendapatkan medali kemenangan di Singapura.

“Kami berharap jembatan yang didesain itu bisa dipakai Pemerintah Indonesia sebagai acuan pembuatan jembatan di masa depan,” urai dia.

Direktur Polines, Supriyadi bangga dengan keberhasilan mahasiswanya meraih prestasi di luar negeri.

“Harapannya membuat kampus Polines lebih baik di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.

 

Sumber: Tribun Jateng, ‘Kedua Mahasiswi Polines Ini Juarai NTU Bridge Design 2019, Sempat Lima Kali Gagal Pengujian Desain‘, 18 Maret 2019, <http://jateng.tribunnews.com/2019/03/18/kedua-mahasiswi-polines-ini-juarai-ntu-bridge-design-2019-sempat-lima-kali-gagal-pengujian-desain?page=all> [diakses 15 April 2019]