Kursi Roda Listrik Karya Dosen dan Mahasiswa Asal Riau, Bisa Dikendalikan dengan Pikiran

/ / Berita
Kursi Roda Listrik Karya Dosen dan Mahasiswa Asal Riau, Bisa Dikendalikan dengan Pikiran

Kursi roda listrik karya dosen dan mahasiswa asal Riau, bisa dikendalikan dengan pikiran, sudah dirintis sejak tahun 2016. Kursi roda listrik yang bisa dikendalikan dengan pikiran itu merupakan hasil penelitian dosen dan mahasiswa Politeknik Caltex Riau (PCR).

WOW, Kursi Roda LISTRIK Karya Dosen dan Mahasiswa Asal Riau, Bisa Dikendalikan dengan Fikiran

WOW, Kursi Roda LISTRIK Karya Dosen dan Mahasiswa Asal Riau, Bisa Dikendalikan dengan Pikiran

Saat ini dosen dan mahasiswa awal Riau itu sedang melakukan pengembangan teknologi kursi roda yang digerakan menggunakan pikiran itu. Teknologi di bidang biomedik ini telah dirintis PCR sejak tahun 2016 lalu.

Kini kursi roda listrik yang dikontrol menggunakan sinyal otak penggunanya sedang menuju kesempurnaan setelah dilakukan penelitian hingga pengujian dalam jangka waktu yang lama. Dosen peniliti PCR menggandeng mahasiswa yang konsentrasinya di bidang tersebut dalam proses pengembangan teknologi.

“Sudah ada tiga mahasiswa yang lulus dengan judul tugas akhirnya membahas kursi roda yang dikontrol menggunakan pikiran ini,” ungkap Ketua proyek penelitian kursi roda listrik PCR, Putri Madona, kepada tribunpekanbaru.com, Senin (7/12/2018).

Putri Madona yang menjadi inisiator penelitian kursi roda biomedik ini mengungkapkan ketiga mahasiswa yang terlibat penelitian ini telah lulus dan bekerja.

WOW, Kursi Roda LISTRIK Karya Dosen dan Mahasiswa Asal Riau, Bisa Dikendalikan dengan Fikiran

WOW, Kursi Roda LISTRIK Karya Dosen dan Mahasiswa Asal Riau, Bisa Dikendalikan dengan Pikiran

Generasi pertama benama Maulud Hidayat yang sekarang di Kota Batam. Dalam tahap pertama ini kursi roda yang dikendalikan pikiran masih proses permulaan. Kebanyakan penilitannya mengarah ke akuisisi data untuk diklasifikasi menjadi gerakan kursi listrik, berdasarkan sinyal-sinyal otak penggunanya.

Kemudian penelitian generasi kedua ada dua mahasiswa yakni Nurul Fikri dan Roby Pradana, keduanya sudah lulus dan bekerja di perusahaan tertentu. Penelitian Nurul Fikri lebih kepada pengembangan perangkat lunak pada kursi roda listrik dalam prosesnya menangkap sinyal otak untuk diartikulasikan ke perintah gerakan.

Sistem komputerisasi pada kursi roda ini lebih valid dan terkoneksi dengan sempurna. Sedangkan penelitian Roby Pradana mengarah ke kesempurnaan kursi roda secara mekanis untuk menjawab perintah yang diterjemahkan dari pikiran kedalam teknologi. Pada tahap ini, kursi listrik itu sudah bisa membawa beban yang berat dibanding generasi pertama.

“Bisa dikatakan sudah mencapai 90 persen hasil penelitiannya. Kita sedang mempersiapkan generasi ketiganya agar lebih sempurna,” tambah dosen yang akrab disapa Dona ini.

Ia menyebutkan, kursi roda listrik yang dikontrol pakai pikiran ini difokuskan kepada orang yang mengalami kelumpuhan pada organ gerak atas dan bawah, kecuali wajah. Alhasil tanpa menggerakan tangan dan kaki, penggunanya bisa beraktifitas meski tidak dibantu oleh orang lain. Cukup hanya menggunakan pikiran serta organ yang ada dibagian wajah seperti alis dan kelopak mata. Selebihnya dikerjakan oleh software dan perangkat lunak pada kursi listrik.

Tim peneliti lainnya, Yusmar Palap Wijaya, menambahkan untuk menggerakan kursi memakai gerakan khusus pada organ wajah yang dikontrol oleh pikiran. Alat khususnya dipasang dikening hinga telinga untuk menangkap sinyal otak. Untuk berjalan maju sinyal yang ditangkap yakni atensi atau konsentrasi.

Pengguna cukup meningkatkan konsentrasinya pada level tertentu untuk memerintahkan kursi roda bergerak kedepan. Sedangkan berjalan mundur dikontrol dari sinyal rileksasi atau meditasi.

Pengguna merileksasi pikirannya sesuai dengan level yang bisa tangkap sistem. Sedangkan berbelok ke kanan, pemakai hanya berkedip sebanyak dua kali dengan level kedipan yang sempur dalam satu detik.

Berbeda lagi dengan belok ke kiri, penggunanya hanya menaikan alis saja. Dalam menghentikan gerakan kursi roda dengan berkedip sebanyak tiga kali, tentu dengan sempurna.

Gerakan-gerakan pada organ wajah itu ternyata sangat mempengaruhi sinyal otak dibanding seseorang hanya duduk diam tanpa ada pegerakannya. Teknologi serupa sebenarnya sudah dikembangkan dibeberapa kampus di Indonesia temasuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun konsentrasi dan metode yang dipakai bebreda-beda, mulai dari gerakan, pikiran, hingga ucapan.

Sebenarnya pihaknya ingin mempromosikan hasil penelitian ini untuk bisa digunakan serta diterapkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Hanya saja membutuhkan proses yang panjang dan rumit agar sampai pengguna.

Untuk saat ini PCR hanya mengedepankan kesempurnaan alat hasil penelitian dengan melakukan pembaharuan dan pengembangan bertahap. Fase prototipe penyempurnaan di laboratorium membuat peneliti lebih nyaman. Sedangkan urusan pemasaran dan pemantapan produk biarlah menjari bagian dari pengusaha atau perusahaan yang memiliki modal.

 

Sumber: Tribun Pekanbaru, ‘Kursi Roda Listrik Karya Dosen dan Mahasiswa Asal Riau, Bisa Dikendalikan dengan Fikiran‘, 7 Januari 2019, <http://pekanbaru.tribunnews.com/2019/01/07/wow-kursi-roda-listrik-karya-dosen-dan-mahasiswa-asal-riau-bisa-dikendalikan-dengan-fikiran?page=all> [diakses 14 Februari 2019]