Mahasiswa Politeknik Negeri Padang Ciptakan Gelang Anti Begal

/ / Berita
Mahasiswa Politeknik Negeri Padang Ciptakan Gelang Anti Begal

Padang – Menekan aksi kejahatan jalanan, Kelompok Pekan Kreativitas Mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) menciptakan gelang antibegal alias Gibal. Gelang berbasis mikro kontroler itu diyakini mampu menjadi solusi pencegahan dini aksi kejahatan, terutama begal jalan. Lahirnya gelang anti kriminal itu berawal dari gagasan tiga mahasiswa jurusan teknik informatika (TI) PNP. Masing-masing, Bobby Kurniawan, Tiara Ramayani, dan Fauziah Wulandari. Karya kreatif mahasiswa itu sudah lolos seleksi dan meraih dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program pekan kreatif mahasiswa 2018.

Saat ini, gelang anti begal yang diciptakan oleh mahasiswa Jurusan Teknik Informatika (TI) itu, masih terus dikembangkan. Pengembangan ditujukan agar pengguna Gelang Anti Begal (Gibal) semakin mudah mengakses jika ada pengguna atau pemakai Gelang Anti Begal lainnya dalam kondisi terancam saat dibegal.

Tiga mahasiswa Politeknik Negeri Padang menciptakan Gelang Anti Begal (Gibal). Gelang ini diciptakan untuk meminimalisir korban kejahatan di jalanan

Tiga mahasiswa Politeknik Negeri Padang menciptakan Gelang Anti Begal (Gibal). Gelang ini diciptakan untuk meminimalisir korban kejahatan di jalanan.

“Gibal ini bekerja ketika penggunanya dalam kondisi terancam. Cara kerjanya cukup mudah, yaitu dengan hanya menekan tombol pada alat Gibal jika terjadi sesuatu,” kata salah satu pencipta Gelang anti begal, Tiara Ramayani kepada tribunpadang.com di PNP, Minggu (29/7/2018) sore.

Sedikitnya, sistem Gibal menggunakan dua metode yang berhubungan. Pertama, alat dan kedua, aplikasi. “Alat bekerja mengirimkan lokasi secara real time dan jumlah denyut nadi pengguna,” katanya.

Setelah data didapatkan, kata Tiara, selanjutnya akan disimpan dan diolah untuk diteruskan ke sesama pengguna aplikasi Gibal. Secara otomatis, notifikasi SMS akan masuk ke nomor bantuan yang sudah didaftarkan oleh pengguna. “Gibal bekerja menggunakan hotspot pribadi pada handphone pengguna. Otomatis untuk data nanti akan diterima kepada nomor yang telah terdaftar berupa pesan singkat berikut dengan lokasi keberadaan pengunaan secara real,” katanya.

“Artinya jika tombolnya ditekan, maka SMS berupa informasi keberadaan pengguna yang terancam, terkirim ke nomor handphone yang sudah di hubungkan, supaya pihak tersebut bisa dengan cepat melakukan pertolongan terhadap pengguna yang jadi korban,” ujarnya.

Mahasiswa di Padang ini Ciptakan Alat Antibegal

Prototipe Gibal yang masih dalam penyempurnaan.

Bobby Kurniawan mengungkapkan saat ini, server sistem aplikasi Gibal ditempatkan di gedung Politeknik Negeri Padang. Sedangkan pembuatan aplikasi mengunakan pemrograman Java dan android studio sebagai IDE pengguna. “Di sisi server, kami mengunakan pemrograman PHP dan HTML untuk menampilkan data-data yang diterima yang diteruskan ke server,” katanya.

Merampungkan satu Gibal, terang Bobby, sedikitnya menelan waktu selama 60 hari atau dua bulan. Sementara, satu buah Gibal menelan biaya sebesar Rp170 ribu hingga Rp200 ribu. Dalam pembuatan Gibal ini mereka hanya terkendala dengan pembelian perangkat atau suku cadang untuk pembuatan Gibal ini, yang mana semua mereka pesan secara online di pulau Jawa. “Ya, kita hanya terkendala pembelian perangkat itu saja yang harus kita pesan dari jawa, kami sudah putar di Kota Padang ini tidak pernah ketemu orang menjualnya,” sebut Bobby.

Lebih lanjut kata Tiara, saat ini mereka masih dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan terhadap Gibal, baik itu terkait sistim maupun desain dari Gibal sendiri. “Kita masih terus mengembangkan sistim Gibal ini, baik dari sistim, aplikasi dan desain bentuk Gibal ini,” kata Tiara. Ia mengungkapkan dalam pembuatan Gibal tersebut mereka sudah melakukan tiga kali metode percobaan baik itu dalam segi bentuk dan penyempurnaan perangkat yang ada pada Gibal.

“Percobaan pertama dan kedua kami membuat dengan bentuk Gibal yang agak besar dan kemudian perangkat yang cepat memboroskan batrai, karena pada awalnya kita menggunakan sim card untuk data internet agar bisa terhubung. Namun kemudian kita hilangkan lantaran daya batrai cepat habis jika menggunakan data internet melalui sim card. Jadi saat ini sistim Gibal masih bergantung kepada personal hotspot di ponsel pengguna. Yang jelas jika ada jaringan internet maka Gibal akan berfungsi,” jelas Tiara.

Untuk pengembangan Gibal saat ini, tim penggagas Gibal sedang merencanakan untuk pembentukan suatu komunitas. Hal itu untuk mempermudah akses yang cepat bagi pengguna Gibal, jika memang terancam atau menjadi korban begal. “Kita akan bentuk juga komunitas Gibal. Sebab apabila hanya tergantung kepada satu nomor penanggulangan terhadap korban cukup lama. Tapi, dengan adanya komunitas otomatis nanti juga menerima pesan dan langsung menanggulangi kejadian. Selain itu, komunitas ini juga akan secara tidak langsung mempromosikan Gibal kepada masyarakat luas. Di samping mengembangkan dan menyempurnakan, kita juga melakukan promosi. Mudah-mudahan Gibal dapat diterima di masyarakat luas,” ujarnya.

Sementara itu, Cipto Prabowo, Dosen pembimbing prodi teknik komputer  mengatakan, pembuatan Gimbal ini merupakan sebuah proyek dari salah satu pratikum dan pengembangan dari apa yang telah mereka pelajari sebelumnya. Sebelum mengembangkan alat ini kata Cipto, mereka telah memasukan proposal ke kemenristekdikti untuk melanjutkan proyek tersebut.

“Alhamdulillah pengembangan alat kreatif yang mereka buat ini telah lolos seleksi dan berhasil meraih dana penelitian dari Kemenristekdikti pada program pekan kreatif mahasiswa 2018,” sebutnya.

Meski persentasi awal sebagai program kreatif mahasiswa, namun tim Gibal bertekad ingin lebih mengembangkan dan memasarkan secara luas. Maka dari itu, tim Gibal sangat membutuhkan vendor-vendor yang mau bekerja sama untuk pengembangan pemasaran. Ditambahkannya, gelang anti begal ini rencananya akan diikutkan pada seminar nasional yang akan dilaksanakan pada 3-4 September mendatang. Diharapkan, melalui seminar itu diharapkan ada pihak atau vendor yang tertarik untuk ikut men-support pembuatan gelang anti begal ini secara massal.

“Nantinya kita akan cari vendor untuk pendamping karya mereka ini agar lebih sempurna lagi dan juga bisa dipasarkan secepatnya,” tutup Cipto.

 

Sumber: