Polije Gelar Pelatihan Etik

/ / Berita, Politeknik Indonesia
Polije Gelar Pelatihan Etik

Penelitian yang mengikutsertakan manusia dan atau hewan sebagai subjek penelitian harus memberikan perlindungan kepada subjek penelitian. Perlindungan yang dimaksud adalah kearifan untuk menjaga harkat-martabat subjek penelitian. Penelitian dan pengembangan kesehatan yang dilakukan terhadap manusia harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan jiwa manusia, keluarga, dan masyarakat yang bersangkutan.

Demikian dipaparkan Puspito Arum SGz MGz, Ketua Panitia Pelatihan Etik Dasar dan Lanjut Penelitian Kesehatan Politeknik Negeri Jember (Polije), Senin (25/6) di Hotel Aston Jember. Pelatihan Etik Dasar dan Lanjut Penelitian Kesehatan yang dilaksanakan selama dua hari. Diikuti 46 peserta yang terdiri atas 15 peserta anggota Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Polije dan 31 orang peserta lainnya dari KEPK perwakilan beberapa PTN/PTS maupun bersifat perorangan.

Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan Muh. Munih D. Widianta SKom MT mewakili direktur, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya pelatihan etik ini, mengingat urgensi dan strategis keberadaan KEPK.

“Penelitian kesehatan harus memberikan aspek perlindungan pada subjek penelitian baik yang menyangkut manusia dan hewan, terutama pada aspek kesehatan dan keselamatan jiwa manusia, keluarga, dan masyarakat,” katanya.

Menurut dia, pelatihan etik ini akan meningkatkan kompetensi khusus bagi KEPK, agar dalam menjalankan peran dan fungsinya bisa berjalan dengan baik dan kredibel sesuai tahapan dan ketentuan yang berlaku.

Pelatihan Etik Dasar dan Lanjut Penelitian Kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar etik penelitian kesehatan. Selain itu, pengenalan SOP dan prosedur persetujuan etik, berbagai macam etik dalam penelitian kesehatan, serta tanggung jawab dan integritas peneliti.

Pelatihan juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam proses ethical review. Dilakukan melalui latihan penyelesaian studi kasus peningkatan kapasitas dan standar etik penelitian kesehatan. Pelatihan tersebut ditujukan bagi calon anggota komisi etik penelitian kesehatan.

Narasumber pelatihan etik adalah dr Triono Soendoro PhD dari Kemenkes RI. Pelatihan dilaksanakan selama 20 jam pelajaran dalam 6 sesi serta dipaparkan 28 materi pelatihan.

“Wawasan etik dalam penelitian kesehatan terdiri atas 3 prinsip etik (1979), 7 standar kelaikan WHO (2011), dan 25 butir pedoman WHO-CIOMS (2016),” tegasnya.

Menurut Triono Soendoro, dalam pelatihan ini dibahas banyak studi kasus. Antara lain studi kasus observasional perawat di RS, pasien di ruang tunggu, kesalahan tenaga kesehatan (nakes) di ICU, pencegahan efek samping di ICU, mempelajari perilaku kesehatan (kasus pap smear), peregangan fisik: kelaikan 7 standar. Juga dibahas pemberian vitamin A dan diare pada anak, mengamati praktik perawatan bayi 1-3 bulan, kualitas pelayanan keluarga dan penyakit genetik akibat kepekaan asap rokok.

Materi pelatihan etik ini meliputi: posisi etik dalam penelitian kesehatan, persetujuan setelah penjelasan (PSP) informed consent, komisi etik penelitian kesehatan, etik penggunaan hewan percobaan dalam penelitian kesehatan, etika dalam penelitian kerja sama, tanggung jawab peneliti selama melaksanakan penelitian, tanggung jawab setelah penelitian, integritas peneliti, etika penelitian obat dan pengobatan tradisional, pedoman etik WHO-CIOMS (2016), penelitian observasional, penelitian dengan memanfaatkan data sekunder, standar kelaikan usulan penelitian, epidemiologi klinik dan penelitian klinik, draft, borang dan instrumen akreditasi komisi etik serta pengembangan mikrobiside.

 

Sumber: Jawa Pos Radar Jember, ‘Polije Gelar Pelatihan Etik‘, 29 Juni 2018, <https://radarjember.jawapos.com/read/2018/06/29/83859/polije-gelar-pelatihan-etik> [diakses 2 Agustus 2018]