Politani Pangkep Ajar Warga Barrang Lompo Teknik Budidaya Ramah Lingkungan

/ / Berita
Politani Pangkep Ajar Warga Barrang Lompo Teknik Budidaya Ramah Lingkungan

Makassar – Sebagai upaya menanggulangi kerusakan ekosistem karang atau koral (coral) di habitat alami, dosen Jurusan Agribisnis Perikanan dan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (PPNP) didik warga pulau.

Warga pulau yang menjadi sasaran pelatihan adalah masyarakat nelayan di Pulau Barrang Lompo Makassar. Pelatihan oleh dosen kampus PPNP atau akrab dikenal sebagai Politani Pangkep adal Program Pengembangan Produk Ekspor (PPPE). Pada PPPE tersebut, warga dilatih dan dididik untuk mencari alternatif demi mengurangi tekanan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam khususnya karang laut hias, untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke luar negeri.

Barang bukti coral atau karang hidup yang disita Kapolda Sulsel di Mapolda Sulsel, Makassar, Sabtu (5/8/2017).

Program pengembangan tersebut diketuai dosen jurusan Agribisnis Perikanan Dr .Mauli Kasmi S.Pi., M.Si. didukung anggota pertama Ir. Asriany M.Si. (jurusan Agribisnis Perikanan). Lalu anggota kedua Dr. Andi Ridwan Makkulawu ST., M.Sc. (Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan).

Kegiatan PPPE tersebut didanai oleh dana riset dan pengabdian kepada masyarakat berasal dari Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) dan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan.

Mauli mengatakan, untuk alternatif yang perlu dilakukan atau dapat dapat ditempuh ada beberapa cara. Antara lain mengembangkan karang buatan (artificial reef), mengembangkan teknik penutupan areal, translokasi karang, dan teknik budidaya karang hias.

Teknik Budidaya

“Nah, dipilih Program Pengembangan Produk Ekspor ini dengan cara Produksi Budidaya Karang Hias sebagai salah satu alternatif. Karena cara ini bisa diperoleh karang hias yang baik dan cepat untuk kebutuhan ekspor,” kata Mauli dalam rilis ke tribun-timur.com.

“Tujuan PPPE dengan teknik budidaya karang hias secara lestari berbasis masyarakat yaitu untuk memperoleh jumlah produk, jenis, dan kualitas serta peningkatan kualitas habitat karang secara terencana,” lanjutnya.

Dengan memilih teknik budidaya karang hias, lanjut Mauli, cara ini dapat menjamin keberlanjutan usaha karang hias menuju persaingan usaha kreatif dan dedikasi dengan sentuhan inovasi produksi tanpa ketergantungan dari produk alam.

Program ini berwujud kemitraan antara perguruan tinggi dalam hal ini Politeknik Pertanian Negeri Pangkep dengan warga Pulau Barrang Lompo yang terhimpun di Usaha Kecil Menengah (UKM) Angin Mamiri dan UKM Rezky Bahari. UKM Angin Mamiri adalah kelompok nelayan yang melakukan budidaya karang hias sekitar 5 tahun terakhir dan hasil panen dijual ke UKM Rezky Bahari sebagai pemilik modal. Dan UKM Rezky Bahari yang mengekspornya.

Kuota Menurun

Mauli Kasmi dalam penelitiannya, kuota permintaan koral alam Sulawesi Selatan mengalami tren penurunan selama kurun waktu tahun 2010 – 2015. Kecenderungannya mengalami penurunan sekitar 10 persen setiap tahunnya (Kasmi dkk, 2017). Realita tersebut selayaknya membuat pelaku usaha ekspor karang hias harus melakukan penerapan penguasaan teknologi budidaya sebagai pengganti ketergantungan karang hias alam. Selain itu secara perlahan menjadi pemulihan terumbu karang yang mengalami kerusakan.

Dikutip dari data: AKKII dan AKIS 2018, jumlah kuota pengiriman karang hias pada tahun 2011 mencapai 213.600 Pcs, lalu tahun 2012 sebesar 201.600 Pcs, tahun 2013 terus turun hanya 186.100 Pcs. Lalu pada tahun 2014 sebesar 183.400 Pcs, tahun 2015 mulai naik sebanyak 185.100 Pcs, tahun 2016 volumenya stabil sebesar 185.100 Pcs, dan tahun 2017 juga sama 185.100 Pcs, dan tahun 2018 mulai naik menjadi 188.100 Pcs.

Karang hias yang dibudidayakan PPPE Politani Pangkep

“Kuota permintaan mulai naik sejalan mulai berproduksi, UKM binaan Politani Pangkep dari Program Pengembangan Produk Ekspor yang didanai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) dan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan,” ujar Mauli.

Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan sebagai bagian pengembangbiakan karang berdasarkan penjelasan Tim PPPE.

Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan adalah indukan karang dari alam yang berwarna cerah dan mempunyai bentuk menarik sehingga pasar menjadi tertarik dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Indukan karang yang diambil secara seleksi tersebut adalah sesuai dengan kuota alam dari UKM Rezky Bahari yang diberikan oleh Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan. Indukan karang tersebut diambil di sekitar lokasi usaha budidaya karang untuk menghindari karang tersebut tidak stress pada saat diangkut ke tempat budidaya karang oleh UKM Angin Mamiri.

Pola usaha produksi karang hias untuk akuarium yang diproduksi dan dipelihara UKM Angin Mamiri, selanjutnya dijual ke UKM dalam hal ini CV Rezky Bahari selaku supplier karang hias. Produksi hasil budidaya karang hias akan dibeli selama tiga tahun dengan sistem petik olah jual. Jumlah produksi karang hasil budidaya direncanakan berkisar antara 15 ribu-18 ribu spesimen/ potong karang setiap tahunnya.

Budidaya karang hias dari PPPE 2018 oleh Politani Pangkep

Jumlah didasarkan atas pengalaman, dimana daya serap pasar internasional yang melalui permintaan langsung dari CV Rezky Bahari dengan importir langganan berkisar antara 45.000 – 55.000 specimen karang setiap tahunnya untuk karang hias alam.

Pelekatan karang hias pada substrat harus cukup kuat dan dapat dikerjakan secara praktis serta menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Jumlah indukan dimaksud disesuaikan dengan rencana kuota/produksi anakan tahunan yang akan diperdagangkan.

Proses Produksi

Proses produksi karang hias hasil budidaya yang akan dilakukan selama ini adalah dengan cara Desain dan Konstruksi, Sumber Bibit, Penempelan Bibit, dan Pemeliharaan. Demi meningkatkan pengadaan dan pemeliharaan bahan baku atau produksi secara efesien dan eketif dari seluruh kegiatan yang terkait dibutuhkan sarana fasilitas produksi. Produksi sangat tergantung tersedianya fasilitas yang memenuhi standar untuk melakukan proses kegiatan produksi yang dapat menghasilkan kualitas yang baik. Adapun cara produksi karang dibutuhkan rak meja tata letak berdasarkan masing-masing jenis dan turunannya untuk memudahkan kontrol, pemeliharaan serta penghitungan jumlah.

“Saat ini yang telah berjalan pada umumnya berukuran rak meja berbentuk persegi empat 1 x 1 m lebar 1 m dan tinggi 35 cm dalam tiap rak meja hanya boleh ditempati oleh satu jenis karang,” jelas Mauli.

Bahan rak meja untuk budidaya yang dikembangkan antara lain besi, paralon 1” yang telah diisi pasir campur semen –supaya lebih awet dan kuat. Bahan ini dinilai ramah lingkungan serta relatif jauh lebih murah dibandingkan bahan lainnya.

Sumber Bibit

Pemilihan bibit karang yang telah dilakukan dengan kriteria sebagai berikut, yaitu:

1) Bibit harus sehat;

2) Karang yang diambil bebas dari organisme lain yang menempel (seperti sponges), hal ini untuk mencegah agar biota lain yang tidak diperlukan tidak ikut terambil;

3) Bibit karang yang dibudidaya sebaiknya berasal dari sekitar lokasi atau berasal dari daerah lain atau dari anakan hasil usaha budidaya yang telah berhasil dan harus disertai dengan dokumen sesuai ketentuan yang berlaku;

4) Pemotongan stek dilakukan dengan menggunakan gunting yang tajam dan steril serta dilakukan secara hati-hati agar karang tidak mengalami stres. Ukuran panjang setiap stek berkisar antara 3- 5 cm.

Anakan karang yang telah melekat dengan baik pada substrat dan bahan perekatnya telah kering (mengeras), selanjutnya diangkut atau dipindahkan ke tempat pemeliharaan (kerangkeng). Lalu padat penebaran berkisar rata-rata 100 karang/m2 atau 100 pcs karang setiap meja rak.

Langkah berikutnya adalah penempelan bibit. Proses penempelan stek anakan karang hias pada substrat harus cukup kuat dan dapat dikerjakan secara praktis serta menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dilakukan di lokasi budidaya.

Budidaya karang hias yang dikembangkan oleh PPPE 2018 Politani Pangkep

Penempelan stek anakan karang dilakukan pada bagian permukaan substrat yang berlubang dengan menggunakan perekat (lem) secukupnya. Bahan kimia yang digunakan cukup aman bagi lingkungan dan tidak mengandung logam berat serta tidak menimbulkan pencemaran perairan.

Pemeliharaan-Pemasaran

Bibit karang yang telah disemaikan pada rak-rak meja di dasar laut membutuhkan pemeliharaan yang intensif untuk mendapatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang baik. Sebelum dilakukan pemeliharaan terlebih dahulu dilakukan penataan konfigurasi penempelan stek anakan karang pada substrat dan tagging. Selanjutanya karang hias yang di meja rak fragmetasi yang siap untuk dipelihara/budidayakan di simpan di dasar laut.

“Kebersihan produkasi budidaya karang hias atau fragmen dan lingkungannya harus tetap terjaga kelangusungan hidup dan untuk menekan angka kematian,” tambah Dr Andi Ridwan Makkulawu ST MSc.

Model pengelolaan yang diterapkan oleh CV Rezky Bahari beserta team PPPE Politani Negeri Pangkep adalah pengelolaan lestari (sustainable) yang berbasis pada masyarakat. Teknologi yang dikembangkan adalah eco-teknologi (ecosistem teknologi) yang tentunya berorientasi agribisnis melalui program seafarming (budidaya karang) dan pariwisata. Sistem pemasaran hasil budidaya karang yang akan dikembangkan adalah sistem jual-beli yang didasarkan atas mekanisme pasar, dalam hal ini pemasaran internasional atau ekspor.

Ketua PPPE Politani Pangkep Dr Mauli Kasmi dan tim saat memantau proses budidaya karang hias di perairan Barrang Lompo, Makassar

Pembelian hasil budidaya karang yang berasal dari nelayan plasma dilakukan setelah pemotongan biaya-biaya alat/bahan produksi atau menurut kesepakatan antara pihak inti dengan plasma. Sedangkan pembelian hasil budidaya yang berasal dari mitra usaha adalah sistem jual beli menurut kesepakatan berdasarkan perjanjian.

 

Sumber: Tribun Timur, ‘Cegah Kerusakan Karang, Politani Pangkep Ajar Warga Barrang Lompo Teknik Budidaya Ramah Lingkungan‘, 25 Agustus 2018, <http://makassar.tribunnews.com/2018/08/25/cegah-kerusakan-karang-politani-pangkep-ajar-warga-barrang-lompo-teknik-budidaya-ramah-lingkungan?page=all> [diakses 17 September 2018]