Seminar Nasional: Pemilik Konstruksi Wajib Memiliki K3

/ / PEDP, Politeknik Indonesia, Polytechnic Education Development Project, Seminar
Seminar Nasional: Pemilik Konstruksi Wajib Memiliki K3

Semarang – Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang (HMS) selenggarakan Seminar Nasional implementasi K3, Senin (9/7/2018). Seminar bertajuk  implementasi K3 dalam bidang Konstruksi demi terwujudnya zero accident mendatangkan empat pembicara yakni Sekertaris Jenderal Ahli K3 Konstruksi Indonesia Ir Kusumo Rajad Sutjahjo, Healthy Safety Environment Manager PT Nindya Karya wilayah V Makassar Dedikasi Firansyah, Pimpinan Proyek Jembatan Holtekamp Jayapura Ega Yogaswara, dan Kepala PT Waskita Karya Cabang DIY Toto Birowo.

Seminar nasional tersebut membahas pentingnya sosialisasi K3 kepada fresh graduate sangat diperlukan. Mengingat sering terjadinya kecelakaan, dan kegagalan pada konstruksi. Hal itu disebabkan kurangnya pemahaman akan pentingnya K3 di sebuah konstruksi.

Selain itu penyebab kecelakaan kerja pada sebuah konstruksi dikarenakan oleh keterlambatan kontrak kerja konstruksi. Hal itu dapat menyebabkan lembur para pekerja, penambahan alat, serta bahan material yang akan menjadi sumber kecelakaan.

Disamping itu pemilik kontruksi juga harus memiliki Rencana Keselamatan, dan Kesehatan Kerja (RK3). RK3 tersebut sesuai pontensi bahaya proyek tersebut sebelum melaksanakan tender oleh peserta lelang yang disempurnakan oleh penyedia jasa.

RK3 yang diajukan  tidak diperbolehkan copy paste (mencontoh) karena bahaya tiap proyek berbeda-beda. Kerugian yang diakibatkan pada satu kecelakaan mencapai 48 kali lipat atau setara Rp 1 Triliun. Oleh karena itu K3 wajib dikuasi oleh pekerja kontruksi karena diatur dalam UU nomor 2 tahun 2017. Disamping itu pekerja kontruksi harus memiliki sertifikat konstruksi yang telah diuji oleh Lembaga Sertifikasi Konstruksi diserta kompetensi kerja.

Sementara itu, Pimpinan Proyek Jembatan Holtekamp Jayapura Ega Yogaswara mengatakan larar belakang dibangunnya jembatan holtekamp Jayapura yaitu untuk mempermudah proses migrasi ke Muaratami. Hal ini bertujuan mengurangi kepadatan penduduk di Jayapura.

” Selain itu jika ditinjau dari kelayakan, Muaratami dinilai lebih layak huni dibandingkan dengan Jayapura,” ujarnya.

Menurutnya, teknologi yang digunakan dalam membangun jembatan Holtekamp yaitu Bearing Conventional. Bearing tersebut dapat bergerak dari segala arah, dan meminimalisir terjadinya gempa ke pondasi.

” Uniknya jembatan ini tidak dibuat di lokasi seperti jembatan-jembatan lain pada umumnya,” tuturnya.

Ia menuturkan jembatan Holtekamp dibuat oleh PT PAL dan didistribusikan melalui jalur laut menuju Papua selama 15 hari.Jembatan tersebut kemudian dirakit menjadi jembatan utuh.

” Kami lakukan identifikasi ilmu kelautan dan identifikasi ilmu perkapalan terlebih untuk menjamin jembatan tidak tenggelam, dan tetap aman selama proses pengiriman,” tukasnya.

 

Sumber: Tribun Jateng, ‘Seminar Nasional: Pemilik Konstruksi Wajib Memiliki K3‘, 12 Juli 2018, <http://jateng.tribunnews.com/2018/07/12/seminar-nasional-pemilik-konstruksi-wajib-memiliki-k3?page=all> [diakses 9 Agustus 2018]